Allahummaghfirli waliwalidayya warhamhuma kama robbayani
soghira. Amiin. Ya
Allah ampunilah aku dan kedua orang tuaku serta kasihanilah mereka sebagaimana
mereka mengasihani aku diwaktu kecil.
Do’a itu sering kita ucapkan terlebih lagi setelah sholat, do’a seorang
anak untuk kedua orang tua. Orang tua mana yang tidak sukan di doakan oleh
anaknya. Tapi apakah sebenarnya benar do’a tersebut sampai kepada orang tuanya.
Ada faktor syarat pada do’a itu yaitu sebagaimana mereka menyayangiku diwaktu
kecil. Apakah kita sudah menyayangi anak-anak kita?
Dalam do’a itu ada kalimat menyayangiku diwaktu kecil. Ada
beberapa pendapat sebenarnya terjemah tersebut kurang tepat, lebih tepatnya
adalah “mendidikku diwaktu kecil”. Sudahkah kita ikut berpartisipasi mendidik
anak?. Kalau kita belum ikut mendidik anak berarti do’a tersebut akan tertuju
pada guru-gurunya. Lalu apa yang kita peroleh.
Ki Hajar Dewantara membagi pendidikan menjadi 3 jenis. Ketiga
jenis tersebut adalah pendidikan keluarga, pendidikan formal, pendidikan
lingkungan. Pertama pendidikan keluarga, ranah ini adalah pendidikan pertama
dan pondasi dasar bagi anak. Sejak lahir keluarga lah yang memegang kendali
pendidikan. Minimal usia 0-3 tahun orang tua 100% mendidik anak. usia tersebut
merupakan usia emas untuk menanamkan karakter bagi anak. orang tualah yang
menjadi sosok panutan pertama bagi anak. sosok yang menjadi contoh bagi
perilaku anak, teladan yang ditiru kelakuan dan kebiasaannya. Pada usia ini
anak akan dengan sangat mudah menerima informasi, karena daya tolaknya masih
rendah. Anak akan menerima informasi dan pelajaran apa adanya. Jika seorang
anak sering melihat orang tuanya sholat dan beribadah dengan rajin, maka hal
tersebut yang akan melekat dalam diri anak.
Kedua adalah pendidikan sekolah. Ranah ini memegang peran
pendidikan saat anak berusia 5 tahun keatas, atau paling cepat 3 tahun. Banyak sekolah
yang mempunyai berbagi macam slogan “mencetak generasi unggul dan berakhlaqul
karimah”. Sekolah punya mimpi untuk mendidik anak-anaknya menjadi seperti yang
diharapkan. Berbagai macam program disiapkan dan dilaksanakan untuk mencapai
target tersebut. Tetapi apakah semua siswa akan merata tercapai target
tersebut. Kecerdasan mungkin sangat bisa diciptakan dengan sekolah, tapi mental
dan akhlaq, ternyata sekolah hanya memegang sedikit peran saja dalam membentuk
mental dan akhlaq anak. hal yang paling mendasar dalam pembentukan akhlaq anak
adalah pendidikan keluarga dan pendidikan lingkungan. Walaupun beberapa sekolah
menerapkan full day school yang telah menyita 7-8 jam anan berada di sekolah,
namun peran orang tua sebagai pembentuk karakter masih sangat dominan. Karakter
yang dikembangkan pada pendidikan keluarga akan dapat merasuk walaupun tanpa
bicara. Sebagai contoh, sebuah keluarga dengan ayah-ibu bekerja ketika pulang
dengan kondisi capek, sementara anaknya juga setelah seharian beraktivitas di
sekolah dan mungkin tempat les yang hanya ditemani oleh seorang supir ketika
sedang bersama si orang tua yang merasa capek langsung pergi istirahat dan agar
anaknya tidak mengganggu istirahatnya, lalu si anak dibiarkan main game, atau
menonton TV. Mental dan akhlaq apa yang kira-kira kita dapatkan dan contoh ini.
Rasa acuh dan cuek, pendidikan rumah yang seharusnya dilakukan orang tua tergantikan
oleh televise dan game.
Ranah selanjutnya adalah lingkungan. Banyak dari kita selalu berkata
anakku jadi begini karena bergaul sama anaknya bapak itu. lingkungan juga sangat
berpengaruh terhadap perkembangan mental anak. di lingkungan yang tidak
kondusif anak akan cenderung merubah ke arah negatif. Tapi apakah kita harus
selalu berpindah lingkungan jika kita tidak menemukan lingkungan yang ideal
menerut kita, yang disana hanya dihuni oleh orang-orang baik? Tentu tidak. Lalu
bagaimana kita menjadikan lingkungan yang tidak ideal menjadi area mendidik
anak yang ideal. Kembali lagi kuncinya adalah pada pendidikan keluarga. Diluar rumah
pasti seorang anak akan menemukan berbagi hal baru. Kita lihatan atau tidak
kita lihatkan mereka pasti akan lihat, kita beritahu atau tidak mereka akan
tahu. Pendidikan keluarga juga menjadi benteng dalam menghadapi berbagia hal
positif dan negatif pada lingkungan. Jika suasana keluarga sangat nyaman untuk
saling bertukar informasi, maka anak akan menjadi nyaman mengatakan segala hal
kepada orang tua. Saat anak kita menginjak remaja, mungkin kita kaget atau
marah-marah ketika mengetahui anak sedang ada ketertarikan pada lawan jenis. Kekagetan
dan kemarahan kita tersebut sejatinya yang menjadikan benteng pelindung bagi
anak runtuh. Dia menjadi tidak nyaman lagi berada dalam benteng, dan akhirnya
ia keluar untuk mencari benteng-benteng yang lain. Dan mulai saai itulah
kekuatan pendidikan lingkungan akan mengambil alih pendidikan keluarga.
Wahai sahabat-sahabat sekalian. Keluarga merupakan
pondasi pertama dan utama dalam membentengi berbagai pengaruh negatif bagi anak
serta bekal untuk mempersiapkan anak kita. Bukankah dalam sebuah ayat di al-qur’an
dijelaskan “jagalah dirimu dan keluargamu dari neraka”. Maka mari kita
memperkuat pendidikan dikeluarga, sehingga kita dapat mendidik anak-anak kita
menjadi anak yang berkualitas secara intelektual, emosional, dan spiritual.

0 comments :
Post a Comment