Ketika kita ditanya tentang matematika, pasti dibenak kita adalah
sekumpulan angka yang dijumlahkan, dikurang, dikali atau dibagi. Matematika
adalah menghitung angka-angka yang kita sendiri kadang tidak tahu untuk apa
angka itu. Deretan angka mulai dari satuan, puluhan, hingga puluhan ribu
dibebankan pada anak-anak sekolah dasar. Dari hal tersebut sehingga muncul
dalam benak kita bahwa matematika itu adalah ilmu menghitung. Tetapi apakah
memang matematika itu adalah ilmu hitung.
Delapan kecerdasan majemuk yang ditemukan oleh howard gardner salah
satunya adalah mathematic logic. Dalam ranah kecerdasan ini dijelaskan bahwa
matematika itu adalah kecerdasan berfikir secara sistematis dan logis untuk menyelesaikan
sebuah permasalahan. Berbagai permasalahan yang ditemukan diselesaikan dengan
berfikir logis yang meliputi identifikasi masalah, analisis masalah,
penyelesaian masalah. Berhitung hanyalah sebagian kecil dari urusan matematika,
bahkan berhitung adalah efek jika logikanya sudah dapat, maka hitungan
berapapun akan dapat terselesaikan.
Berbagai macam metode berhitung banyak kita temukan saat ini. Mulai
dari hitungan dengan jari ataupun dengan metode cepat lainnya. Berbagai metode
tersebut menawarkan agar anak dapat menguasai berhitung; penjumlahan-pengurangan,
perkalian-pembagian. Kita bisa meningkatkan kemampuan berhitung anak dengan
menggunakan berbagai metode tersebut, Namun kita harus berhati-hati jangan
sampai berdampak dengan konsep matematika yang sesungguhnya.
Berbagai metode mengembangkan kemampuan berhitung anak harus
sejalan dengan konsep berfikir logis yang menjadi dasar dari matematika. Ada
beberapa metode yang ternyata dapat merusak konsep matematika ketika anak
mendapatkan materi aljabar, padahal materi aljabar adalah salah satu ranah
dalam matematika yang tidak dapat terpisahkan. Jika aljabar belum bisa
dikuasai, maka integral, differensial, kalkulus
akan susah pula diterima oleh anak. Mungkin hal tersebut juga yang
membuat kita kenapa selalu menjadikan materi aljabar sebagai momok, jika
bertemu dengan “x” atau “y” seolah-olah menjadi misteri yang tidak pernah ada
penyelesaiannya. Sejatinya konsep aljabar adalah mengajak nalar berfikir logis.
Jadi jika konsep belajar berhitung tidak ditekankan pada berfikir logis maka
konsep aljabar akan sulit diterima oleh anak.
Berhitung cepat
dengan mengabaikan logika akan membuat anak suka matematika secara sesaat. Kalau dalam benak kita hanya seperti itu, pertanyaan selanjutnya
adalah, apa bedanya matematika dan kalkulator? Rentetan aritmatika tersebut
hanyalah irisan dari ilmu metematika itu
sendiri. Tetapi
alangkah beruntungnya ketika anak kita sudah tertarik dengan angka-angka dan
rentetan aritmatika tersebut. Kita bisa memanfaatkan hal tersebut untuk membuat
anak-anak lebih mencintai matematika. Sehingga mereka tahu bahwa kehidupan
mereka tidak pernah terlepas dari matematika itu sendiri. Saat bermain,
jalan-jalan, bahkan dari bangun tidur sampai tidur lagi mereka selalu
menggunakan matematika. Aljabarpun akan menjadi sesuatu yang mudah dan
menyenangkan ketika kita mengajarkannya dengan cara mengaplikasikannya langsung
dalam kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan
uraian tersebut layaknya kita perlu membedakan antara matematika dan berhitung.
Berhitung hanyalah sebagian kecil dari matematika yang belum mewakili definisi
matematika. Kemampuan matematika tidak hanya diukur dari kemampuan berhitung,
tetapi lebih dari itu berfikir logis untuk menemukan cara berhitung lebih cepat
adalah kemampuan yang tinggi dalam matematika. Kita harus berfikir global
tentang matematika sebagai satu kesatuan ilmu yang meliputi aritmatika,
aljabar, geometri, logika. Jangan sampai hanya karena mengejar kemampuan
menghitung kita mengabaikan konsep dasar matematika. So, save our math for our
life.

0 comments :
Post a Comment