Home » » Papaku Jarang Pulang

Papaku Jarang Pulang

Ayahku Jarang Pulang

Dalam sebuah keluarga, keberadaan seorang ibu dan ayah bagi anak sangatlah penting. Dari ibu anak akan berlatih karakter wanita, dan dari ayah anak akan belajar karakter laki-laki. Seorang anak perempuan akan berlatih bagaimana menjadi wanita kepada ibunya serta berlatih memahami karakter laki-laki dari ayahnya. Sebaliknya, anak laki-laki akan belajar cara menjadi laki-laki “yang jantan” kepada ayahnya dan belajar memahami sifat serta prilaku wanita dari perilaku ibunya. Olehkarena itu keberadaan keduanya sangatlah penting.
Namun, sekarang bagaimana jika ayah dan ibu sedang hubungan jarak jauh, atau bahasa kerennya LDR (Long distance Relationship). Ayah yang sehari-hari bekerja jauh dari anak dan istrinya, pulang 2 minggu sekali, sebulan sekali, atau bahkan beberapa bulan sekali baru pulang. Bagaimana cara ibu sebagai single parent dalam beberapa waktu, serta bagaimana sikap ayah untuk menebus waktu kebersamaan dengan anak yang hilang. Ayo kita bahas bersama-sama.
Seperti yang telah dituliskan diawal, baik anak laki-laki ataupun perempuan sangat membutuhkan peran ayah dan ibu dalam membentuk karakter anak. Keberadaan ayah yang tidak setiap hari bias ditemui anak memang sedikit mengganggu perkembangan karakter dan psikologis anak. Namun, hal tersebut bias diminimalisir dengan kerjasama yang erat antara kedua orang tua. Sebelum melangkah lebih lanjut tentang bagaimana caranya, mari kita bicarakan terlebih dahulu apa yang biasa terjadi dari hal tersebut.
1.      Kehilangan sosok Laki-laki terbaik
Ayah sebagai model laki-laki pertama dan paling utama bagi anak. Disadari atau tidak seorang anak pasti akan meniru ayah, terlebih lagi anak laki-laki kehilangan ayah berarti kehilangan panutan tiruan bagi mereka. Ketidak adaan ayah disamping anak akan mendorong anak mencari sosok yang dianggap laki-laki. Lalu bagaimana cara orangtua menghibur anak yang bersedih tersebut. Biasanya orang tua menjanjikan apa yang akan diberikan dan yang akan dilakukan saat nanti ayah pulang, anak diam dan dianggaplah selesai permasalahan. Namun sejatinya itulah awal mula bencana bagi pengembangan karakter anak.
2.      Beratnya seorang ibu
Kepergian ayah tentunya menjadikan posisi ibu sebagai single parent dan single fighter. Walaupun komunkasi lewat telfon selalu dilakukan tiap hari, tapi di rumah tetaplah ibu sebagai eksekutor. Ibu yang bertindak sebagai pembuat aturan dan mengawasinya sendirian. Kasih saying yang mustinya dibagi bersama ayah dilaksanakan sendiri oleh ibu. Sosok ayah yang mestinya dating dengan penuh ketegasan digantikan oleh ibu. Tidak jarang sang ibu tegas di awal, tetapi lemah karena merasa kasihan dan iba kepada anaknya. Rasa kasihan dan iba ini yang menyebabkan ibu tidak konsisten terhadap peraturan yang telah ditetapkan, rasa iba yang berbuah tidak konsisten inilah yang menjadi celah yang akan merusak karakter anak.
3.      Fasilitas yang berlebih
Ketidakmampuan ayah untuk selalu menemani anak menjadi salah satu alasan memberikan berbagai fasilitas kepada anak. Fasilitas elektronik, gadget, ataupun lainnya. Tapi apakah kita pernah bertanya, sebenarnya apa fungsi peralatan tersebut bagi anak, apa dampak positif dan negatifnya, seberapa besar perjuangan anak untuk mendapatkannya, hal tersebut tidak pernah kita fikirkan. Keberadaan fasilitas tersebut difungsikan agar anak senang dan menerima keadaan jarang bertemu dengan ayah, agar anak memaklumi interaksi fisik yang sangat jarang, anak bisa lupa kalau ayahnya sedang tidak dirumah dengan bermain game. Dan hasilnya, keberadaan orang tua tergantikan dengan fasilitas tersebut. Anak lebih dekat dengan perangkat-perangkat elektronik tersebut daripada dengan orangtuanya. Bahkan anak lebih suka membicarakan kehebatan dia bermain game dan kecanggihan elektroniknya ketimbang membicarakan kehebatan orang tuanya.
4.      Kedatangan ayah merusak segalanya
Kedatangan ayah menjadi hari paling istimewa dan sangat ditunggu oleh anak, terlebih lagi jika sebelumnya telah dijanjikan sesuatu jika ayah pulang. waktu kepulangan adalah saat bagi ayah untuk bersama dan membahagiakan anak. namun perlu diingat, apa peraturan yang mungkin diterapkan oleh ibu selama ayah tidak dirumah harus tetap berjalan ketika ayah dirumah. Kebanyakan ketika ayah banyak hal yang sebelumnya dilarang menadi boleh dengan dalih “menyenangkan Anak” trus kalau begitu selama dengan ibu g seneng dong. Lagi-lagi dengan dalih “menyenangkan anak” aturan-aturan yang dibuat ibu tidak berlaku ketika ayah pulang. sebagai contoh biasanya anak diberi uang jajan Rp 10.000 sehari, namun ketika ayah pulang menjadi Rp 20.000 sehari. Jam nonton TV yang biasanya hanya sampai pukul 20.00, menjadi pukul 22.00, serta banyak contoh lainnya. Alangkah tidak konsistennya peraturan rumah jika seperti ini, dan alangkah kasihan ibu yang telah membuat peraturan jika akhirnya dilanggar ketika ayah pulang. yang lebih berat lagi jika nanti ayah kembali lagi bekerja dan ibu akan menerapkan lagi peraturan tersebut, sang anak akan berucap “kalau sama bapak kok boleh”. Hayo, siapa yang salah.
Keberadaan ayah yang harus bekerja jauh dari orang tua memang menjadi keputusan yang dilematis, namun hal tersebut perlu kita hadapi. Kominten suami-istri untuk tetap bersama dan kompak mendidik anak sangat penting. Apapun hal dan saran yang bisa diterapkan harus didasari dengan kekompakan suami-istri sebagai tim dalam mendidik anak. beberapa hal yang bisa diterapkan antara lain.
1.      Beri kepercayaan kepada anak
Jika ayah menelfon anak hal apa yang ditanyakan, tentang keadaan anak, keadaan ibu. Itu hal standar. Memberi kepercayaan yang dimaksud adalah posisikan anak untuk mengambil langkah dan keputusan jika ia anak laki-laki, maka berilah kepercayaan untuk melakukan beberapa tugas laki-laki, jika wanita ajaklah berdiskusi hal yang menarik tentang wanita dan mungkin laki-laki. Sebagai contoh, berikan anak tugas atau dalam bahasa keren misi untuk menjaga ibu dan adik ketika ayah tidak ada, lebih spesifik anak ditugaskan untuk mengecek keadaan pintu sudah terkunci atau belum sebelum tidur. Dari tugas tersebut anak akan merasa dihargai sebagai laki-laki, serta anak belajar bahwa laki-laki harus memberikan rasa aman kepada wanita.
2.      Diskusikan setiap pembuatan peraturan
Peraturan dirumah yang dibuat ibu tapi dilanggar ayah akan percuma. Peraturan yang dilanggar ketika ayah dirumah biasanya berawal dari belum adanya komunikasi jenis peraturan yang akan diterapkan dengan sang ayah. Jika sang ayah menerimapun pelaksanaannya tidak maksimal, dan jika tidak setuju maka yang akan terjadi aturan tersebut tidak berlaku, dalam hati anak akan mengatakan bapak dan ibu g kompak.
Sebaiknya setiap peraturan didiskusikan dahulu dengan pasangan, sehingga penerapannya dapat continue dan maksimal.
3.      Ada ayah = tidak ada ayah
Keberadaan ayah tidak akan merubah peraturan. The rules must go on. Jika ayah ingin membantu ibu dalam mendidik anak, maka jalankanlah aturan yang telah dibuat dan disepakati bersama.
4.      Komitmen
Kunci dari segala hal adalah komitmen. Komitmen dari ayah ibu untuk bersama-sama mendidik anak. walaupun jarak memisahkan jika komitmen bersama terjalin dengan baik, insya allah semua akan berjalan dengan baik. Lebih dari itu komitmen antara orang tua dan anak juga perlu dibangun, hal ini untuk mengembangkan sikap pengertian anak terhadap kondisi keluarga dan membangun rasa empati.
Itulah sedikit hal yang mungkin dapat diterapka, semoga bermanfaat. Mari kita membangun Indonesia kuat dengan mendidik anak-anak-anak kita dengan cara hebat.

0 comments :

Post a Comment

Link Terkait

Visitor

.