2 Februari 2018, hampir semua postingan di beranda Facebook saya berkenaan dengan Meninggalnya seorang Guru Di Kab Sampang, Madura. Beliau meninggal setelah dipukul (bukan dianiaya) oleh siswanya dan tepat mengenai salah satu pembuluh darah. Awal mulanya Sang Guru mengingatkan siswanya tersebut yang sedang mengganggu temannya untuk tenang, namun bukanyya tenang siswa tersebut malah semakin menjadi jadi dengan mencoret coret lukisan kawannya. Sang Guru pun mengambil sedikit tindakan dengan mencoret pipi murid tersebut. Tidak terima dengan tindakan gurunya, sang murid pun memukul Gurunya pada bagian kepala. Pada akhirnya Sang Guru menghembuskan Nafas terakhirnya pada pukul 21.00 pada salah satu RSUD di Surabaya.
Kejadian ini membuat kita terhenyak. Bagaimana seorang murid melakulan sebuah tindakan kekerasan kepada Gurunya?. Dimanakah letak hormat seorang murid? Bagaimakah pola asuh keluarga dan lingkunganyya?.
Sopan santun dan etika menghormati orang lain nampaknya semakin menipis dalam era milenia ini. Banyak anak berkata dengan nada membentak kepada orang tuanya. Bahkan banyak anak yang mengancam jika permintaannya tidak dituruti.
Dua faktor yang mempengaruhi tergerusnya moral dan etika anak zaman now, yaitu pola pendidikan keluarga, dan lingkungan sekitar. Pola pendidikan keluarga yang memanjakan anak akan membentuk pribadi selalu ingin menang sendiri. Dan yang lebih parah adalah keteladanan yang buruk dari sifat sifat yang ditunjukkan oleh orang tuanya.
Prof Mahfudz MD menuturkan, bahwa orang tua beliau sering bertemu gurunya untuk berterima kasih saat beliau dihukum. Hal ini menunjukkan kesungguhan orang tua dalam mendidik anak. Orang tua memahami bahwa hukuman dari guru adalah bagian dari pendidikan, dan orang tua juga menunjukkan bahwa beliau kompak/sejalan dengan yang dilakukan oleh guru. Sementara banyak hal yang kita lihat saat ini adalah berita mengenai orang tua yang melabrak gurunya karena tidak terima anaknya dimarahi, orang tua yang memukul gurunya karena anaknya dipotong rambutnya. Perilaku orang tua yang seperti ini secara langsung membenarkan hal yang telah dilakukan oleh anaknya dan menganggap guru tersebut telah melakukan kesalahan. Anak akan selalu menggunakan orang tuanya sebagai tameng, bahkan parahnya anak tidak pernah tahu kalau yang dilakukan adalah salah, karena dia selalu dibela oleh orang tuanya.
Bagaimanapun juga peran orang tua adalah peran utama dalam mendidik Anak. Sekolah hanyalah membantu, sementara orang tua adalah pemilik utama. Amanah untuk mendidik anak ada di pundak kedua orang tua.
Semoga para orang tua di Indonesia senantiasa dilimpahi kekuatan dalam mendidik putra putrinya. Aamiin..
Kejadian ini membuat kita terhenyak. Bagaimana seorang murid melakulan sebuah tindakan kekerasan kepada Gurunya?. Dimanakah letak hormat seorang murid? Bagaimakah pola asuh keluarga dan lingkunganyya?.
Sopan santun dan etika menghormati orang lain nampaknya semakin menipis dalam era milenia ini. Banyak anak berkata dengan nada membentak kepada orang tuanya. Bahkan banyak anak yang mengancam jika permintaannya tidak dituruti.
Dua faktor yang mempengaruhi tergerusnya moral dan etika anak zaman now, yaitu pola pendidikan keluarga, dan lingkungan sekitar. Pola pendidikan keluarga yang memanjakan anak akan membentuk pribadi selalu ingin menang sendiri. Dan yang lebih parah adalah keteladanan yang buruk dari sifat sifat yang ditunjukkan oleh orang tuanya.
Prof Mahfudz MD menuturkan, bahwa orang tua beliau sering bertemu gurunya untuk berterima kasih saat beliau dihukum. Hal ini menunjukkan kesungguhan orang tua dalam mendidik anak. Orang tua memahami bahwa hukuman dari guru adalah bagian dari pendidikan, dan orang tua juga menunjukkan bahwa beliau kompak/sejalan dengan yang dilakukan oleh guru. Sementara banyak hal yang kita lihat saat ini adalah berita mengenai orang tua yang melabrak gurunya karena tidak terima anaknya dimarahi, orang tua yang memukul gurunya karena anaknya dipotong rambutnya. Perilaku orang tua yang seperti ini secara langsung membenarkan hal yang telah dilakukan oleh anaknya dan menganggap guru tersebut telah melakukan kesalahan. Anak akan selalu menggunakan orang tuanya sebagai tameng, bahkan parahnya anak tidak pernah tahu kalau yang dilakukan adalah salah, karena dia selalu dibela oleh orang tuanya.
Bagaimanapun juga peran orang tua adalah peran utama dalam mendidik Anak. Sekolah hanyalah membantu, sementara orang tua adalah pemilik utama. Amanah untuk mendidik anak ada di pundak kedua orang tua.
Semoga para orang tua di Indonesia senantiasa dilimpahi kekuatan dalam mendidik putra putrinya. Aamiin..
Lampung Timur
3 Februari 2018
3 Februari 2018


0 comments :
Post a Comment