Pendidikan yang Menghukum
Posted by
Unknown
Posted on
21:51
with
No comments
_Oleh : Rhenald Kasali._
_Lima belas thn lalu sy pernah mengajukan protes kpd guru sebuah sekolah tempat anak sy belajar di AS. Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yg ditulis anak sy seadanya itu telah diberi nilai E [excellence] yg artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal, dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa._
_Karangan yg dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kpd sy dan sy mencemaskan kemampuan verbalnya yg terbatas. Menurut sy, tulisan itu buruk. Logikanya sangat sederhana. Sy memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah._
_Rupanya karangan itulah yg diserahkan anak sy kpd gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tdk salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sdh diberi nilai tinggi, sy khawatir anak sy cepat puas diri._
_Sewaktu sy protes, ibu guru yg menerima sy hanya bertanya singkat._
_*“Maaf, Bpk dari mana?”*_
_*“Dari Indonesia,”* jwb sy. Dia pun tersenyum._
_Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yg penting bagi hidup sy. Itulah saat yg mengubah cara sy dlm mendidik dan membangun masyarakat._
_*“Sy mengerti,”* jwb ibu guru yg wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. *“Bbrp kali sy bertemu ayah-ibu dari Indonesia yg anak2nya dididik di sini,”* lanjutnya._
_*“Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan utk menghukum, melainkan utk merangsang org agar maju. Encouragement!”,* diapun melanjutkan argumentasinya._
_*“Sy sdh 20 thn mengajar. Setiap anak ber-beda2. Namun utk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yg bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, sy dpt menjamin, ini adalah karya yg hebat,”* ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yg dibuat anak sy._
_Dari diskusi itu sy mendpt pelajaran berharga. Kita tdk dpt mengukur prestasi org lain menurut ukuran kita._
_Sy teringat betapa mudahnya sy menyelesaikan studi sy yg bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor._
_Sementara di Indonesia, sy hrs menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop-out dan para penguji yg siap menerkam._
_Padahal, saat menempuh ujian program doktor di luar negeri, sy dpt melewatinya dgn mudah. Pertanyaan para dosen penguji memang sangat serius dan membuat sy hrs benar2 siap. Namun, suasana ujian dibuat sangat bersahabat._
_Seorg penguji bertanya, sedangkan penguji yg lainnya tdk ikut menekan. Melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mrk tahu jawabannya. Mrk menunjukkan grafik2 yg sy buat dan menerangkan se-terang2nya sehingga kami makin mengerti._
_Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan._
_Pd saat kembali ke Indonesia, banyak hal sebaliknya sering sy saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yg duduk di bangku ujian._
_Etikanya, seorg penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan. Tapi yg sering terjadi di Indonesia justru penguji marah2, tersinggung, dan menyebarkan berita tsk sedap se-akan2 kebaikan itu ada udang di balik batunya._
_Sy sempat mengalami frustrasi yg luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yg maaf, menurut hemat sy sangat tdk manusiawi._
_Mrk bukannya melakukan "encouragement", melainkan "discouragement". Hasilnyapun bisa diduga, kelulusan rendah dan yg diluluskanpun kualitasnya tdk hebat2 betul._
_Org yg tertekan ternyata belakangan sy temukan juga cenderung menguji dgn cara menekan. Ada semacam unsur balas dendam dan kecurigaan._
_Sy ingat betul bagaimana guru2 di AS memajukan anak didiknya. Lantas sy berpikir, pantaslah anak2 di sana mampu menjadi penulis karya2 ilmiah yg hebat, bahkan penerima hadiah Nobel. Bukan krn mrk punya guru yg pintar secara akademis, melainkan karakter hasil didikan guru2nya sangat kuat: yaitu karakter yg membangun, bukan merusak._
_Kembali ke pengalaman anak sy di atas, ibu guru mengingatkan sy. *“Janganlah kita mengukur kualitas anak2 kita dgn kemampuan kita yg sdh jauh di depan,”* ujarnya dgn penuh kesungguhan._
_Sy juga teringat dgn rapor anak2 di AS yg ditulis dlm bentuk verbal._
_Anak2 Indonesia yg baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tdk diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yg mendorongnya utk bekerja lebih keras, seperti berikut. *“Sarah telah memulainya dgn berat dan dia mencobanya dgn sungguh2, namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yg berarti.”*_
_Malam itu, sypun mendatangi anak sy yg tengah tertidur dan mengecup keningnya. Sy ingin memeluknya di tengah2 rasa bersalah krn telah memberinya penilaian yg tdk objektiv._
_Dia pernah protes saat menerima nilai E yg berarti excellent [sempurna[, tetapi sy justru mengatakan bhw “gurunya salah”. Kini, sy mampu melihatnya dgn kacamata yg berbeda._
_*Bisakah kita mencetak orang2 hebat dgn cara menciptakan rasa takut?*_
_Bukan tdk mustahil kita adalah generasi yg dibentuk oleh sejuta ancaman : rotan pemukul, dilempar kapur atau penghapus oleh guru, setrap, dan seterusnya._
_Kita dibesarkan dgn seribu satu kata ancaman : *Awas…; Kalau…; Nanti…; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala* di atas kertas ujian dan rapor di sekolah._
_Sekolah yg membuat kita tdk nyaman mungkin membuat kita lebih disiplin. Namun, juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat._
_Temuan2 baru dlm ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tdk statis, melainkan dpt mengerucut [mengecil] atau sebaliknya, dpt tumbuh._
_Semua itu sangat tergantung dari/atau dukungan [dorongan] yg didpt dari orang2 di sekitarnya. Dgn demikian, kecerdasan manusia dpt tumbuh, tetapi sebaliknya juga dpt menurun._
_Ada org pintar dan ada org yg kurang pintar atau bodoh. Tetapi, juga ada org yg “tambah pintar” dan ada pula org yg “tambah bodoh”._
_Mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan._
_Bantulah anak Indonesia utk maju._
_Semoga bacaan ini, bisa membantu mengetahui tentang makna mendidik. Mendidik adlh utk merangsang anak agar maju, membantu menemukan potensi terbaik anak dan mengembangkannya, menjadikan anak berbudi pekerti yg baik._
*_SALAM PERUBAHAN POLA PIKIR_*

0 comments :
Post a Comment