Namanya Rasyid, seorang anak dari single mother yang bekerja serabutan sebagai asisten rumah tangga dari rumah ke rumah ini, terkenal bandel di sekolah SMP-nya. Suatu waktu, dia pernah menusuk teman kelasnya yang dikenal cerdas dengan ujung pensil yang membuatnya terluka. Lain waktu, dia akan menarik buku pelajaran sekolah teman perempuan yang berada satu baris didepannya saat sang anak tersebut sedang serius belajar. Entah sudah berapa kali, Marni, sang Ibu Rasyid, dipanggil ke sekolah untuk mendapatkan peringatan atas perlakuan anaknya.
Lain hal dengan Rasyid, Angga, si anak cerdas yang pernah ditusuk tangannya dengan pensil oleh Rasyid, dikenal sebagai anak yang penurut. Setiap ada pelajaran matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, namanya akan di sebut berkali-kali oleh sang guru:
“Tuh liat sih Angga. Dia rajin belajar makanya cerdas. Jangan niru si Rasyid tuh yang bandelnya minta ampun.”
Kata-kata ini meluncur manis dari mulut para guru sambil melirik ketus Rasyid yang masih duduk di pojokan dengan wajah acuh. Bagi Rasyid, perlakuan seperti ini adalah hal yang biasa diterima di sekolah semenjak ia kecil. CAP SEBAGAI ANAK NAKAL, BODOH, & BANDEL adalah kesehariannya.
Lain halnya dengan Rasyid, bagi Angga, label anak cerdas adalah anugerah. Kepercayaan dirinya diatas rata-rata dibanding teman-temannya. Ia tumbuh penurut karena apresiasi atas kerja kerasnya hampir selalu terdengar setiap hari.
Berbanding terbalik dengan Angga. Rasyid sudah percaya sejak dia duduk di kelas 3 SD, bahwa dirinya BODOH, tak suka belajar, dan benci dengan sekolah. Dua anak ini lalu tumbuh dengan mindset mereka masing-masing. Bukan hanya dirasakan oleh mereka, anak-anak disekitar merekapun memperlakukan hal yang sama.
Bagi mereka, Rasyid adalah si anak bandel, Angga adalah anak yang cerdas. Yang mau “selamat” bersahabatlah dengan Angga, jika ingin jadi anak bandel, mendekatlah pada Rasyid. Pesan ini bukan hanya diterima dari para guru, tapi juga dari orang tua mereka.
Ilustrasi Rasyid dan Angga ini mungkin terlalu ekstrim. Tapi pernah terjadi. Setidaknya saya pernah menjadi saksi melihat siswa seperti Rasyid juga Angga. Dua siswa dengan perilaku yang sangat kontradiktif.
Cerita fiktif yang saya angkat ini, bertujuan untuk menilai sistem ranking anak di sekolah. Meskipun sudah mulai dihilangkan sejak ada kurikulum terbaru, namun praktik “ranking” secara harfiah masih saja dilakukan.
Ada beberapa hal penting yang perlu kita renungi:
PERTAMA: RANKING BISA MELABELI ANAK APAKAH DIA BODOH ATAU PINTAR
Adalah Dr. Felix Weindhart, seorang peneliti dari London School of Economics (LSE) yang memberi pesan penting kepada kita tentang karakter siswa di sekolah [1-2]:
“Para siswa sangat cepat untuk membuat ranking dalam segala hal di antara mereka. Ranking yang dikeluarkan tiap semester hanya akan membuat pelabelan level kualitas akademik mereka semakin mudah.”
Bayangkan saja, jika setiap semester setiap anak tahu mereka berada di ranking berapa, maka label ANAK BODOH, PINTAR, dan BIASA-BIASA SAJA ini akan beredar diantara mereka. Lalu mulai terbentuk stigma yang mengakar di dalam anak itu sendiri: SAYA TERNYATA GAK PINTAR.
Berapa banyak anak-anak Indonesia yang akhirnya percaya bahwa sesungguhnya mereka tidak cemerlang hanya karena ranking mereka?
Andai saja pelabelan ini hilang, maka setiap anak hanya akan fokus untuk mengalahkan diri mereka sendiri tanpa harus berfikir bahwa mereka BUKANLAH ANAK YANG BERBAKAT DALAM AKADEMIK [2-3].
Bukan hanya soal mindset buruk yang kemudian tertanam, anak-anak yang berada pada ranking tak wajar justru akan melemah tingkat kepercayaan dirinya. Masih dari hasil riset Dr. Weindhart, siswa-siswa yang berada pada ranking terbawah akan melemah kepercayaan diri mereka yang berujung pada lemahnya semangat mereka untuk menuntut ilmu [1-2].
Maka berhati-hati memasukkan anak anda ke sekolah-sekolah unggulan [2]. Tidak semua anak tahan dan mampu terjaga motivasinya.
KEDUA: RANKING MENJADI TAMENG PARA GURU
Lalu mulailah para pendidik percaya tentang bakat seorang anak. Bagi anak-anak yang nilai Matematikanya jelek, maka dia akan dipercaya sebagai anak yang BODOH MATEMATIKA.
Kepercayaan ini bahkan terbawa seumur hidup. Coba tengoklah anda para orang tua, berapa banyak dari kalian yang yakin jika MATH IS NOT MY THING? Padahal sudah banyak buku-buku dan hasil riset yang menjelaskan bahwa dengan pola belajar yang benar, seseorang akan mampu menguasai mata pelajaran ini dengan baik [4-6]
Maka sistem ranking ini bukan hanya menghancurkan kepercayaan diri sang anak, tetapi juga mematikan potensinya yang mungkin saja terhalang hanya karena levelnya yang tak sebanding dengan anak-anak cemerlang lain.
Bagi saya, sistem ranking ini mungkin efektif untuk memompa semangat anak-anak cerdas (top students), tapi tidak bagi anak-anak di luar mereka. Anak-anak non-top students, akan cenderung percaya mereka tidak pintar sejak pertama kali dia tahu bahwa dia telah kalah dengan anak lainnya. Yang punya semangat bertahan menjadi top students mungkin akan terpompa motivasinya, tapi bagaimana dengan mereka yang tak mendapatkan support lingkungan yang menggairahkan? Sudah Bisa dipastikan, mereka akan menyerah.
KETIGA RANKING TIDAK SELALU MENENTUKAN KESUKSESAN SANG ANAK
Benar bahwa banyak anak-anak yang cemerlang di sekolah, yang berada pada ranking teratas juga sukses di masa depan. Tapi tidak selalu bukan?
Kesuksesan seseorang lebih banyak ditentukan oleh karakternya: PANTANG MENYERAH, KREATIF, BERANI MENCOBA, DAN TAK TAKUT GAGAL [7]. Maka tumbuhkanlah semangat ini agar mereka terus berkembang menjadi anak yang cemerlang. INGAT, sebagai orang tua, biarpun anda TIDAK BERBAKAT DI BIDANG AKADEMIK, bukan berarti anak anda juga seperti itu. LINGKUNGAN JUGA SANGAT KUAT MEMPERNGARUHI.
BELAJAR DARI SEKOLAH DeLiang DI INGGRIS
Seorang anak sudah berada di year 1 (selevel kelas 1 jika di Indonesia). Dia bersekolah di St. Michaels Primary School di Bristol, Inggris. Sebuah sekolah publik yang bisa kita tiru sistemnya.
Sama halnya dengan beberapa negara maju lain seperti Finlandia, di Inggris juga tak mengenal sistem ranking.
Lalu bagaimana memberikan penghargaan kepada anak-anak?
Penghargaan yang diberikan kepada anak-anak SD di UK TIDAK LEWAT RANKING AKADEMIK mereka. Semua anak selalu mendapatkan award sesuai dengan kapasitas mereka.
Penghargaan ini bisa bermacam-macam. Bagi yang jago matematika, maka akan diberikan award yang jago matematika. Bagi yang suka menolong temannya, maka akan diberi penghargaan sebagai anak yang suka membantu,
SEMUANYA DIBERIKAN SECARA SEIMBANG. Jadi sang anak tidak merasa terkotak-kotak hanya sebatas kecerdasannya pada pelajaran di kelas. Karakter mereka yang kuat seperti leadership (kepemimpinan) juga diganjar penghargaan, apalagi yang pantang menyerah, mereka akan banjir pujian.
Jadi mari kita renungkan, sebenarnya apa yang kita cari dari pelabelan ranking pada anak-anak. Yang cerdas mungkin akan terus termotivasi, tapi bagaimana dengan mereka yang "tersingkirkan"?
Selamat berkontemplasi!
-----
-----
[1] https://www.telegraph.co.uk/education/10331383/Theres-much-more-to-life-than-being-top-of-the-class.html
[2] Murphy, Richard and Felix Weinhardt, “Top of the class: The importance of ordinal rank,”
2014.
[3] https://www.edweek.org/ew/articles/2014/03/01/kappan_guskey.html
[4] Dweck, Carol, “Mindset: The New Psychology of Success”, Ballantine Books, 2013
[5] Duckworth, Angela, “Grit: The Power of Passion and Perseverance”, Scribner, 2016.
[6] Heesen, B.A. (2013, May 20). Wilson to drop valedictorian distinction; Latin honors system will include more seniors. Reading Eagle. http://readingeagle.com/article.aspx?id=478846.
[7] Anders, Ericsson, “Peak: Secrets from the New Science of Expertise”, HMHCO Publishing, 2016

0 comments :
Post a Comment