PIDATO MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN PADA UPACARA BENDERA PERINGATAN HARi GURU NASIONAL TAHUN 2019
Guruku
Kartiniku
Perayaan Hari Kartini tahun ini masih sama dengan tahun tahun sebelumnya. Perayaan dengan lomba memasak, serta karnaval dengan menggunakan pakaian daerah. Sedikit tampak modern adalah dengan mendatangkan tokoh wanita yang dianggap sebagai "inspirator" karena karirnya. Dengan perayaan tersebut apakah kita sudah benar benar meneladani sosok Kartini. Apakah perkembangan generasi saat ini sudah seperti yabg diimpikan oleh Kartini?.
Meneladani sosok Kartini kita tak bisa melepaskan diri dari kehidupan pribadinya. Saat ini kita hanya membahas Kartini sebagai Pahlawan "Emansipasi Wanita". Kita tak pernah membahas bagaimana kehidupan Beliau dalam beragama, Berkeluarga serta bermasyarakat.
Kehidupan keagaamaan seorang Kartini yang beberapa kali diangkat adalah sosok KH Sholeh Darat. Kartini adalah santri dari KH Sholeh Darat yang Masyhur dengan ilmu tafsir. Bahkan salah satu surat Kartini yang terkenal yaitu " Habis Gelap Terbitlah Terang" diilhami dari tafsir surah Al Fatihah. Kartini merupakan santri yang taat sebelum akhirnha diboyong Ke Rembang oleh suaminya.
Setelah menikah, bakti Kartini sepenuhnya kepada suami. Walaupun ia bukan istri pertama (kalau tidak salah istri ke 3), ia tetap menjaga keharmonisan dalam keluarga. Kartini merupakan sosok istri sholihah yang tak pernah melupakan tugasnya sebagai istri yaitu berbakti kepada Suami.
Kehidupan bermasyarakat seorang kartini pun sangat menginspirasi. Dia mempunyai karya nyata dalam pengabdian kepada masyarakat yaitu dengan mendirikan sekolah. Sekolah ini bukan hanya memberikan ilmu pengetahuan, tetap juga mengajarkan ahlaq, etika serta sopan santun.
Sosok kartini memang bukan satu satunya pahlawan wanita yang mengunspirasi Indonesia. Masih ada Dewi Sartika, Cut Nyak Dien Cut Meutia dll. Namun kesamaan dari tokoh tokoh tersebut adalah bagaimana mereka tetap berpegang teguh pada Agama, Keluarga, serta aksi nyata dalam pengabdian Masyarakat.
Semoga kedepannya muncul Kartini Kartini baru sebagai Madrasah pertama bagi putra putrinya.
Lampung, 21 April 2019
Putra Rembang di Perantauan
Apapun sekolahnya yang penting orang tuanya
Bagi beberapa orang tua, memilih sekolah bukan hanya sekedar kualitas, mereka yang memilih berdasarkan brand berikut.
_"high class"_,
_"sekolah elit",_
_"sekolah bonafit",_
_"sekolah unggulan"_
Ada perasaan bangga ( *semoga tidak bercampur ujub* ) pada saat mengantar anak-anaknya ke Sekolah tersebut.
*_Namun ada satu hal yang patut diingat dear mommies & daddies..._*
Sebagus atau semahal apapun sekolah anak-anak kita, sama sekali bukan jaminan untuk menghasilkan anak yang sholih dan sholihah, anak yang berakhlaqul karimah.
Dari pengalaman serta literasi yang didapat bisa mengambil sebuah kesimpulan, bahwa *_SEKOLAH TERBAIK ADALAH KELUARGA,_*terutama untuk anak-anak sampai dengan usia SD.
Adalah *_sebuah kemustahilan jika kita mengharapkan anak-anak kita berakhlaq baik_* sedangkan di rumah orang tuanya
● _sering bertengkar,_
● _sering marah-marah_
● _sering berkata kasar_
Juga menjadi *_Mission (almost) Impossible jika mengharapkan anak-anaknya menjadi anak yang taqwa, rajin sholat (berjamaah di Masjid bagi yang pria), mampu menghafal Qur'an dengan baik, semangat dalam menuntut ilmu terutama Ilmu Agama_*
Jika orangtuanya
● _cuek terhadap agama._
● _Ayahnya malas sholat berjamaah di Masjid,_
● _Bunda juga seringkali sholat tidak di awal waktu._
● _Ayah Bunda malas menuntut Ilmu Agama, menghadiri Kajian-kajian keislaman, jarang berinteraksi dengan Al-Qur'an,_ dsb dsb.
Perlu sahabat semua ketahui, *_panutan anak-anak adalah orangtuanya, bukan gurunya._*
Sebagian anak-anak bahkan bercita-cita ingin seperti orangtuanya.
Ayah bagi seorang anak laki-laki adalah role model, sedang bagi anak perempuan Ayah adalah "first love" mereka.
Bunda... Terlebih seorang Bunda, baik anak laki-laki dan perempuan banyak yang menjadikan sosok bundanya sebagai "malaikat pelindung".
Satu rahasia kecil, *_para ulama dan orang bijak terdahulu jika mendapati anaknya berbuat kurang baik, berkata tidak jujur, sulit diatur... maka mereka pertama akan menyalahkan diri mereka sendiri, bahkan menghukum diri mereka sendiri..._*
kenapa anak-anak saya bisa seperti ini?
Apakah saya telah berbuat dosa?
Apakah ada makanan haram yang saya berikan untuk anak-anak saya?
*_Itulah sejatinya orangtua yang baik._*Setiap ada kejadian yang kurang mengenakkan tentang buah hati, mereka *_langsung bermuhasabah, bukan menyalahkan si anak, bukan menyalahkan orang lain, bukan mengkambinghitamkan sekolah_* dan lingkungan, walau secara keseluruhan ada juga faktor-faktor pemicu kenakalan anak-anak kita, namun *_faktor terbesar adalah kelalaian orangtuanya._*
Jadi, memang baik mencari Sekolah yang terbaik untuk buah hati kita, namun lebih dari itu semua... *_Mari kita sebagai orangtua belajar menjadi guru kehidupan buat anak-anak kita._* Guru yang akan terus dikenang "baik dan buruknya" oleh anak-anak kita. Guru yang tidak hanya mengantarkan anak-anak ke gerbang wisuda, tapi lebih jauh *_mengantarkan mereka masuk ke gerbang Surga._*
Yuuk... Sahabat semua, kita berdoa untuk kebaikan anak-anak kita, dan kita juga terus bermohon agar Allah selalu memberikan kekuatan kepada kita untuk menjadi orangtua yang baik, yang menjadi uswatun hasanah buat putra-putri kita, investasi dunia akhirat kita.
Semoga Allah ijabah.
Sekolah yang tepat untuk anak
MENDETEKSI POTENSI KECERDASAN ANAK MELALUI RAPOR SEKOLAH
✏✏✏✏✏✏✏✏Pertengahan bulan Desember adalah penerimaan raport buat para putra-putri kita.
Saya ikut bahagia di hari yang penuh ceria ini, dan ijinkan saya berbagi tips buat bapak ibu semua.
*FOKUS lah kepada NILAI TERTINGGI* karena disitulah *KELEBIHAN* ananda. Itulah Anugerah terindah dari Tuhan Alloh yg diberikan. Terima dan Syukuri !
bakat, minat, kecerdasan, modalitas belajar dan potensi yg khas yg berbeda dg anak lain.
• mencintai aktivitas membaca untuk mencari pengetahuan
• bisa berpikir logis
• tahu nilai-2 benar & salah
• mampu mengembangkan bakatnya, dan
• punya semangat juang untuk mewujudkan apa yang dia inginkan secara disiplin & konsisten.
Ketika kita menjadikan ranking sebagai bukti keberhasilan pada anak kita, dampak terbesar adalah pada titik itulah kita berfokus. Kenyataannya TIDAK !!
Dan ini semua tidak bisa diranking.
Maknai nilai raport anak anda *HANYA* sebagai *SALAH SATU* indikator untuk tahu mana titik lemahnya, mana titik unggul ...
Aamiin





