Mendengar judul diatas kita mungkin
teringat salah satu lagu yang berjudul bang toyyib. Seorang yang sudah tidak
pulang selama 2 lebaran atau 2 tahun. namun kesempatan kali ini kita tidak
membahas hal tersebut, tetapi sedikit ada korelasi yaitu tentang tidak pulang.
Dalam sebuah keluarga, keberadaan
seorang ibu dan ayah bagi anak sangatlah penting. Dari ibu anak akan berlatih
karakter wanita, dan dari ayah anak akan belajar karakter laki-laki. Seorang anak
perempuan akan berlatih bagaimana menjadi wanita kepada ibunya serta berlatih
memahami karakter laki-laki dari ayahnya. Sebaliknya, anak laki-laki akan
belajar cara menjadi laki-laki “yang jantan” kepada ayahnya dan belajar
memahami sifat serta prilaku wanita dari perilaku ibunya. Olehkarena itu
keberadaan keduanya sangatlah penting.
Namun, sekarang bagaimana jika ayah
dan ibu sedang hubungan jarak jauh, atau bahasa kerennya LDR (Long distance
Relationship). Ayah yang sehari-hari bekerja jauh dari anak dan istrinya,
pulang 2 minggu sekali, sebulan sekali, atau bahkan beberapa bulan sekali baru
pulang. Bagaimana cara ibu sebagai single parent dalam beberapa waktu, serta
bagaimana sikap ayah untuk menebus waktu kebersamaan dengan anak yang hilang. Ayo
kita bahas bersama-sama.
Seperti yang telah dituliskan
diawal, baik anak laki-laki ataupun perempuan sangat membutuhkan peran ayah dan
ibu dalam membentuk karakter anak. Keberadaan ayah yang tidak setiap hari bias ditemui
anak memang sedikit mengganggu perkembangan karakter dan psikologis anak. Namun,
hal tersebut bias diminimalisir dengan kerjasama yang erat antara kedua orang
tua. Sebelum melangkah lebih lanjut tentang bagaimana caranya, mari kita
bicarakan terlebih dahulu apa yang biasa terjadi dari hal tersebut.
1. Kehilangan
sosok Laki-laki terbaik
Ayah
sebagai model laki-laki pertama dan paling utama bagi anak. Disadari atau tidak
seorang anak pasti akan meniru ayah, terlebih lagi anak laki-laki kehilangan
ayah berarti kehilangan panutan tiruan bagi mereka. Ketidak adaan ayah
disamping anak akan mendorong anak mencari sosok yang dianggap laki-laki. Lalu bagaimana
cara orangtua menghibur anak yang bersedih tersebut. Biasanya orang tua
menjanjikan apa yang akan diberikan dan yang akan dilakukan saat nanti ayah
pulang, anak diam dan dianggaplah selesai permasalahan. Namun sejatinya itulah
awal mula bencana bagi pengembangan karakter anak.
2. Beratnya seorang ibu
Kepergian ayah
tentunya menjadikan posisi ibu sebagai single parent dan single fighter. Walaupun
komunkasi lewat telfon selalu dilakukan tiap hari, tapi di rumah tetaplah ibu
sebagai eksekutor. Ibu yang bertindak sebagai pembuat aturan dan mengawasinya
sendirian. Kasih saying yang mustinya dibagi bersama ayah dilaksanakan sendiri
oleh ibu. Sosok ayah yang mestinya dating dengan penuh ketegasan digantikan
oleh ibu. Tidak jarang sang ibu tegas di awal, tetapi lemah karena merasa
kasihan dan iba kepada anaknya. Rasa kasihan dan iba ini yang menyebabkan ibu
tidak konsisten terhadap peraturan yang telah ditetapkan, rasa iba yang berbuah
tidak konsisten inilah yang menjadi celah yang akan merusak karakter anak.
3. Fasilitas yang berlebih
Ketidakmampuan
ayah untuk selalu menemani anak menjadi salah satu alasan memberikan berbagai
fasilitas kepada anak. Fasilitas elektronik, gadget, ataupun lainnya. Tapi apakah
kita pernah bertanya, sebenarnya apa fungsi peralatan tersebut bagi anak, apa
dampak positif dan negatifnya, seberapa besar perjuangan anak untuk
mendapatkannya, hal tersebut tidak pernah kita fikirkan. Keberadaan fasilitas
tersebut difungsikan agar anak senang dan menerima keadaan jarang bertemu
dengan ayah, agar anak memaklumi interaksi fisik yang sangat jarang, anak bisa lupa
kalau ayahnya sedang tidak dirumah dengan bermain game. Dan hasilnya,
keberadaan orang tua tergantikan dengan fasilitas tersebut. Anak lebih dekat
dengan perangkat-perangkat elektronik tersebut daripada dengan orangtuanya. Bahkan
anak lebih suka membicarakan kehebatan dia bermain game dan kecanggihan elektroniknya
ketimbang membicarakan kehebatan orang tuanya.
4. Kedatangan ayah merusak segalanya
Kedatangan ayah
menjadi hari paling istimewa dan sangat ditunggu oleh anak, terlebih lagi jika
sebelumnya telah dijanjikan sesuatu jika ayah pulang. waktu kepulangan adalah
saat bagi ayah untuk bersama dan membahagiakan anak. namun perlu diingat, apa
peraturan yang mungkin diterapkan oleh ibu selama ayah tidak dirumah harus
tetap berjalan ketika ayah dirumah. Kebanyakan ketika ayah banyak hal yang
sebelumnya dilarang menadi boleh dengan dalih “menyenangkan Anak” trus kalau
begitu selama dengan ibu g seneng dong. Lagi-lagi dengan dalih “menyenangkan
anak” aturan-aturan yang dibuat ibu tidak berlaku ketika ayah pulang. sebagai
contoh biasanya anak diberi uang jajan Rp 10.000 sehari, namun ketika ayah
pulang menjadi Rp 20.000 sehari. Jam nonton TV yang biasanya hanya sampai pukul
20.00, menjadi pukul 22.00, serta banyak contoh lainnya. Alangkah tidak
konsistennya peraturan rumah jika seperti ini, dan alangkah kasihan ibu yang
telah membuat peraturan jika akhirnya dilanggar ketika ayah pulang. yang lebih
berat lagi jika nanti ayah kembali lagi bekerja dan ibu akan menerapkan lagi
peraturan tersebut, sang anak akan berucap “kalau sama bapak kok boleh”. Hayo,
siapa yang salah.
Keberadaan ayah yang harus bekerja
jauh dari orang tua memang menjadi keputusan yang dilematis, namun hal tersebut
perlu kita hadapi. Kominten suami-istri untuk tetap bersama dan kompak mendidik
anak sangat penting. Apapun hal dan saran yang bisa diterapkan harus didasari
dengan kekompakan suami-istri sebagai tim dalam mendidik anak. beberapa hal
yang bisa diterapkan antara lain.
1. Beri kepercayaan
kepada anak
Jika ayah
menelfon anak hal apa yang ditanyakan, tentang keadaan anak, keadaan ibu. Itu hal
standar. Memberi kepercayaan yang dimaksud adalah posisikan anak untuk mengambil
langkah dan keputusan jika ia anak laki-laki, maka berilah kepercayaan untuk
melakukan beberapa tugas laki-laki, jika wanita ajaklah berdiskusi hal yang
menarik tentang wanita dan mungkin laki-laki. Sebagai contoh, berikan anak
tugas atau dalam bahasa keren misi untuk menjaga ibu dan adik ketika ayah tidak
ada, lebih spesifik anak ditugaskan untuk mengecek keadaan pintu sudah terkunci
atau belum sebelum tidur. Dari tugas tersebut anak akan merasa dihargai sebagai
laki-laki, serta anak belajar bahwa laki-laki harus memberikan rasa aman kepada
wanita.
2. Diskusikan setiap pembuatan peraturan
Peraturan dirumah
yang dibuat ibu tapi dilanggar ayah akan percuma. Peraturan yang dilanggar
ketika ayah dirumah biasanya berawal dari belum adanya komunikasi jenis
peraturan yang akan diterapkan dengan sang ayah. Jika sang ayah menerimapun
pelaksanaannya tidak maksimal, dan jika tidak setuju maka yang akan terjadi
aturan tersebut tidak berlaku, dalam hati anak akan mengatakan bapak dan ibu g
kompak.
Sebaiknya setiap
peraturan didiskusikan dahulu dengan pasangan, sehingga penerapannya dapat
continue dan maksimal.
3. Ada ayah = tidak ada ayah
Keberadaan ayah
tidak akan merubah peraturan. The rules
must go on. Jika ayah ingin membantu
ibu dalam mendidik anak, maka jalankanlah aturan yang telah dibuat dan
disepakati bersama.
4. Komitmen
Kunci dari
segala hal adalah komitmen. Komitmen dari ayah ibu untuk bersama-sama mendidik
anak. walaupun jarak memisahkan jika komitmen bersama terjalin dengan baik, insya
allah semua akan berjalan dengan baik. Lebih dari itu komitmen antara orang tua
dan anak juga perlu dibangun, hal ini untuk mengembangkan sikap pengertian anak
terhadap kondisi keluarga dan membangun rasa empati.
Itulah
sedikit hal yang mungkin dapat diterapka, semoga bermanfaat. Mari kita
membangun Indonesia kuat dengan mendidik anak-anak-anak kita dengan cara hebat.
Salam strong from home.

0 comments :
Post a Comment