Setiap orang tua selalu pasti
menginginkan anaknya menjadi anak hebat, anak sholeh, berbakti kepada kedua
orang tuanya bermanfaat bagi manusia yang lain. Tapi apakah usaha yang
dilakukan sudah sebesar harapan tersebut.
Mendidik anak untuk menjadi anak
hebat membutuhkan orang tua yang hebat. Peribahasa apel jatuh tidak jauh dari
pohonnya benar adanya, bagaimana cara orang tua mendidik anak itulah yang akan
menjadi karakter anak. Jika anak dibesarkan dalam lingkungan yang selalu
menebarkan kata-kata positif, maka berkata baik akan menjadi karakter anak
tersebut. Begitu pula sebaliknya.
The power of voice,,itulah yang
akan kita bahas pada kesempatan kali ini. Sebagian dari kita sering menafikan
ucapan yang dibisikkan ke anak, entah itu ucapan positif atau negative. Sesering
apa kita ucapkan, itulah yang akan direkam anak.
Pernahkan kita mengatakan “kamu kok
lambat lupa terus sih mas” saat anak kita sering lupa menaruh barangnya. Atau kita
bilang “kamu ini gimana sih nak, gini aja g bisa”. Atau malah ada yang lebih
kasar lagi. Sadarkah kita jika ucapan tersebut berulang kali kita ucapkan, maka
itulah yang akan jadi mindset di anak. anak akan berfikir “ah aku orangnya
lambat kok”, “ah aku kan emang orangnya g bisaan” dan lebih parah bukan hanya
mindset tapi perbuatan anak akan mengarah ke kalimat-kalimat terbut. Kalimat tersebut
hanya akan membuat kita puas sesaat melampiaskan kemarahan, tetapi dampaknya justru
memperburuk mental anak. lalu bagaimana menyikapinya.
Kata negative punya lawan kata
positive. Jadi yang perlu kita kembangkan adalah kalimat-kalimat positive dalam
berkomunikasi dengan anak. jika anak melakukan kesalahan, kita tidak langsung
pada kesalahan dan hal negatifnya, tapi kita memberikan motivasi untuk
memperbaiki kesalahan. Sebagai contoh ketika anak mendapat nilai 5 dalam
pelajaran bahasa Indonesia, dia pulang dalam keadaan murung. Kita Tanya dia malah
takut dimarahi.
Ibu ; “gimana hasil evaluasinya nak”
Anak : “hmmmmmm…aku dapat jelek bu”
Ibu :”iya berapa sayang, boleh ibu
tau”
Anak :”ini bu aku dapat 5”
Ibu : “kamu sedih nak dapat nilai segitu, atau takut dimarahi ibu”. “ibu
g marah nak, tapi apakah anak hebat ibu puas dengan nilai 5”. Bisa lebih bagus
lagi kan nak.
Anak : “ibu g marah beneran”
Ibu : “iya sayangku, tapi janji
anak hebat nanti bisa lebih bagus ya”
Sedikit dialog diatas hanyalah
contoh. Betapa kita selalu berkonsentrasi pada kesalahan yang dilakukan anak.
sejatinya yang kita bentuk bukan anak yang pintar dengan nilai bagus, tapi anak
yang berkarakter. Jika kita berkonsentrasi pada nilai, anak kita juga akan
berkonsentrasi pada yang kita inginkan yaitu nilai, entah bagaimanapun caranya
yang penting tidak dimarahi orang tuanya.
Orang tua memegang peran sangat
vital dalam mendidik karakter anak. kita perlu memasukkan berbagai kalimat
positif dalam benak anak. selalu memberikan motivasi tanpa merendahkan. Memberi
masukan tanpa menggurui.
Selalu ingat, anak hebat terlahir
dari keluarga yang hebat….

0 comments :
Post a Comment