Mungkin dari kita bertanya, lha kakaknya gak pinter kok malah
Alhamdulillah. Bukankah harusnya yang dibilang Alhamdulillah itu kalau kakaknya
pinter, ini malah sebaliknya.
Judul tersebut adalah gambaran
nyata kehidupan saya pribadi yang secara akademis kakak saya tidak terlalu
pintar, setidaknya nilai yang tertera mengatakan seperti itu (maaf ya
kak,,hee). Kakak pertama yang berjarak 11 tahun lebih tua bisa dibilang cukup
memenuhi kriteria rata-rata, kakak kedua yang berjarak 2 tahun lebih muda dari
kakak pertama mampu lebih dari itu dengan beberapa keahlian spesifik di bidang
kelistrikan. Dan saya sendiri yang berjarak 11 dari kakak pertama dan 8 tahun
dari kakak kedua Alhamdulillah secara akademis dapat meraih lebih dari kedua
kakak saya.
Lalu apa hubungan hal tersebut
dengan judul?. Saya mengatakan Alhamdulillah dengan keadaan ini karena dengan
kakak saya yang secara akademis saya mampu lebih baik dari mereka, maka orang
tua dan lingkungan tidak membanding-bandingkan saya dengan kakak. Guru saya
yang sebenarnya juga guru kakak saya tidak pernah membandingkan kami. Dan Alhamdulillah
saya hidup dalam suasana yang kondusif tanpa beban psikologis dibanding-bandingkan.
Siapa sih yang mau disbanding-bandingkan walaupun dengan saudara kandungnya
sendiri.
Sekarang jika kejadian sebaliknya,
anak pertama merupakan anak yang sangat menonjol dan berprestasi dalam hal
akademik kemudian adiknya bisa dikatakan sedikit atau bahkan jauh dibawah
kakaknya, akankah lingkungan juga memperlakukan sama dengan yang saya alami? Apakah
dia tidak akan dibanding-bandingkan dengan prestasi kakaknya? Dengan keadaan
seperti ini pasti orang tua dan lingkungan akan menjadikan sosok kakak sebagai
pembanding adik. Kita setuju dan sepakat bahwa kita membandingkan memang dalam
hal kebaikan, tapi sekali lagi saya tekankan, siapa sih yang mau dibanding-bandingkan?.
Kita saja yang orang dewasa tidak mau disbanding-bandingkan dengan orang lain.
Pola mendidik dengan
membanding-bandingkan akan berbeda penanganan untuk setiap anak. ada tipikal
anak yang termotivasi dengan dibandingkan, tapi ada anak yang cenderung malah bĂȘte
jika dibandingkan dengan orang lain. Dalam
kesempatan kali ini kita akan membahas pola yang kedua.
Anak yang tidak suka dibanding-bandingkan
akan melakukan defense jika ia
dibandingkan. Defense terendah dan
termudah yang dilakukan hanyalah diam hanya mendengarkan tapi tidak masuk dalam
otak ataupun ingatan anak, defense
selanjutnya dengan mengucapkan bahwa ia tidak suka jika dibandingkan, yang
terakhir dan paling berbahaya adalah ia membenci bahkan memusuhi orang yang
dibandingkan dengan dia baik secara fisik maupun psikologis.
Kita sebagai orang tua yang
mendidik anak-anak untuk menyiapkannya menjadi pribadi yang tangguh harus
memilih metode yang tepat untuk memotivasi anak. Membandingkan bukan cara yang
salah ataupun jelek, tapi kita perlu memilih kata agar tidak terkesan
membandingkan, jadikan sebuah pembanding sebagai tantangan atau lain
sebagainya. Jika kita hanya berkonsentrasi pada pembanding maka tidak akan ada habisnya.
Semoga
kita dapat mendidik anak kita untuk mewujudkan Indonesian Gold Generation untuk
10-50 tahun yang akan dating. amiin

0 comments :
Post a Comment